Sepak bola Italia menghadapi potensi malapetaka di Liga Champions musim ini. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga dekade, bisa saja tidak ada klub Serie A yang lolos ke babak 16 besar. Sejak babak gugur 16 besar diperkenalkan kembali pada musim 2003/04, selalu ada minimal satu wakil Italia yang melaju, bahkan dalam 12 dari 22 musim terakhir, ada tiga tim Serie A yang mampu menembus fase ini.

Namun, tersingkirnya Inter Milan oleh Bodo/Glimt dari Norwegia menambah tekanan bagi klub-klub Italia. Inter, finalis musim lalu, kalah agregat 1-5, sebuah hasil yang menandai kali pertama raksasa Milan tersingkir dari Liga Champions oleh tim di luar lima liga top Eropa. Kini, nasib Serie A hanya bergantung pada Juventus dan Atalanta yang harus membalikkan defisit leg pertama jika ingin lolos.
Juventus tertinggal 2-5 dari Galatasaray, sementara Atalanta kalah 0-2 sebelum menghadapi Borussia Dortmund. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan pengamat dan penggemar Italia. Sejarah panjang Serie A selalu menghadirkan wakil yang kompetitif di Eropa, sehingga hasil ini dianggap mengejutkan.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Kejayaan Serie A yang Mulai Tergerus
Keberhasilan Inter, AC Milan, dan Juventus di Liga Champions dan kompetisi Eropa lain menjadi kenangan yang mulai memudar. Inter merekrut Ronaldo dan Vieri pada akhir 1990-an saat Serie A menjadi liga paling bergengsi di dunia. AC Milan meraih Liga Champions pada 2003, kalah di final dua tahun kemudian, lalu kembali juara pada 2007.
Meskipun Atalanta juara Liga Europa 2024, dan Roma menjuarai Conference League 2021, Liga Champions belum kembali ke tangan klub Italia sejak era Jose Mourinho bersama Inter 2010. Ironisnya, meski Inter memimpin klasemen Serie A 10 poin atas rival Milan, mereka tetap tersingkir lebih awal di Eropa.
Pengamat Vincenzo Credendino menyebut ini sebagai catatan sejarah buruk bagi sepak bola Italia. Ia menilai liga domestik kini kehilangan dominasi di Eropa, yang berdampak pada reputasi dan daya saing klub-klub Italia di kancah internasional.
Baca Juga: Pertandingan Meksiko Lawan Islandia Tetap Berlangsung Meski Ada Kekerasan Kartel
Masalah Struktur dan Intensitas Permainan

Para pakar menyoroti masalah struktural di Serie A. Klub-klub Italia cenderung bermain lambat dan kurang konsisten dalam intensitas pertandingan. Menurut Julien Laurens, pelatih Italia melatih dengan intensitas tinggi, tetapi tim gagal mempertahankannya sepanjang 90 menit.
Situasi ini membuat klub-klub Italia kesulitan bersaing dengan tim yang lebih kecil namun intensif, seperti Bodo/Glimt atau Club Brugge. Selain itu, performa di Liga Champions musim ini menunjukkan ketidakmampuan klub Italia memaksimalkan potensi skuad mereka, meski memiliki pemain bintang dan anggaran tinggi.
Inter, Juventus, dan Atalanta mengalami kegagalan di fase play-off, meski secara teori memiliki kualitas individu lebih baik daripada lawan. Hal ini menunjukkan perlunya perubahan mendasar dalam filosofi permainan, pengembangan pemain muda, dan manajemen klub di Serie A.
Talenta Terbaik yang Merantau
Klub-klub Italia juga kehilangan pemain terbaik ke luar negeri. Contohnya, top scorer Serie A Mateo Retegui pindah ke Arab Saudi, Ademola Lookman ke Atletico Madrid, dan Tijjani Reijnders ke Manchester City. Sementara pemain muda yang tersisa masih minim pengalaman internasional.
Perpindahan pemain top ini memperlebar jurang kompetitif dengan liga-liga Eropa lain yang memiliki sistem pengembangan pemain lebih efektif. Akademi di Italia dianggap kurang produktif, sehingga klub-klub Italia kesulitan menyiapkan generasi muda yang siap bersaing di level Eropa.
Babak play-off yang akan dijalani Juventus dan Atalanta menjadi ujian terakhir bagi Serie A. Jika gagal, ini akan menjadi titik balik serius bagi reputasi sepak bola Italia di panggung Eropa dan menuntut reformasi mendasar di liga domestik. Nantikan terus kabar terbaru seputar sepak bola menarik lainnya hanya di footballtodayhd.com.
